Posted by: Lirih on: Juni 12, 2008
“Mak, kalau ada anak orang main ke rumah, mamak uruslah baek-baek. Sebab mamak punya anak yang merantau. Tak bermamak dan tak berbapak kecuali pada mamak dan bapak orang lain. Kalau mamak sayang sama anak orang, pastilah orang di rantau sayang pula sama anak mamak ini”
Inilah obrolan saya dengan mamak ketika mamak telpon dan mengadu perkara poso-poso* teman adek saya. Kata mamak, poso-poso itu senang kali menginap di rumah. Kalau soal menginap, tak apalah. Tapi perkaranya kan mereka tak hanya tidur, mereka juga makan. Tak perduli hanya sayur silalat* dan sambal ikan teri, berapa pun periuk nasi ditanak sebegitupula yang habis tandas tak bersisa.
Mamak diam sebentar, lalu mamak menjawab, “iyalah pulak kalau diingat-ingat kek gitu nyesal jugalah awak. Boru awak anak rantau jugak nya.”
Setelah menyabar-nyabarkan mamak dan mengajaknya margiri*, hati mamak tak gundah lagi. Karena walaupun poso-poso itu kuat makan, mereka juga rajin membantu mamak, biarpun sekedar mengupaskan buah kelapa atau membelikan minyak tanah ke warung.
Posted by: Lirih on: Juni 4, 2008
Pagi ini saya menemukan raut ketegangan di wajah teman-teman kantor saya. Tekanan pagi hari di jakarta tidak jauh-jauh dari urusan macet, namun pagi ini ketegangannya bertambah.
Kantor saya di bilangan petamburan tidak begitu jauh dari lokasi markas FPI yang sedang di sweeping oleh polisi untuk mencari anggota FPI yang terlibat bentrok dalam tragedi monas kemarin. Teman-teman yang menggunakan angkutan umum kebanyakan turun di slipi petamburan lalu melanjutkan naik angkot m11 atau m09 dan turun di depan kantor. Tetapi pagi ini akses jalan petamburan ditutup oleh polisi. Tidak ada angkot maupun ojek yang boleh beroperasi.
Saya dan teman-teman di ruang proyek 1041 sedang menyiapkan sarapan, saat itu hp saya berbunyi.
R: Halo, assalamualaikum
A: Halo, Mbak re. Ini Ayu. Aduh disini crowded banget mba re.
Suara ayu teman saya terdengar panik. Speaker HP saya aktifkan agar teman-teman seruangan bisa mendengarkan.
Posted by: Lirih on: Mei 27, 2008
Menjadi saudara tidak selalu karena ikatan darah. Persaudaraan semacam ini yang saya rasakan dengan keluarga Kak Dalilah. Orang tuanya, yang saya panggil uak kebetulan berasal dari daerah yang sama dengan saya. Tapi bukan karena itu yang membuat kami dekat.
Persahabatan tidak selalu dimulai dari obrolan di kelas, karena kak Lila bukan teman sekelas saya. Ia kakak kelas saya, sekampus, tetapi beda jenjang beda jurusan, artinya meski ada obrolan tentang kuliah, yang nyambung itu hanya sedikit. Apa yang banyak? Sepertinya, apa saja!
1998, Musholla An-nur (disebelah Ruang Timur)
Saya mengenalnya pada sebuah siang di sebuah musholla yang pengap dan panas, yang membuat pori-pori saya menganga dan mengeluarkan keringat serta seketika menguap. Lantai musholla itu terbuat dari konblok dengan pasir yang tidak pernah habis meski disapu berulang kali. Diatasnya ditutup dengan selembar karpet hijau yang sudut-sudutnya melengkung menahan deraan panas, permukaannya berbulu, bukan bulu yang empuk tapi bulu karena keseringan disikat dan ditebas dengan sapu lidi.
Kerpet hijau itu tidak menutup semua permukaan lantai musholla, dua baris bagian belakang hanya ditutup dengan lembaran tikar plastik yang kondisinya tak kalah mengenaskan. Mereka adalah tikar plastik dengan pinggir dan jahitan yang lepas hingga membuat rumbai-rumbai seperti yang dikenakan penari hawai.
Posted by: Lirih on: Mei 20, 2008
Saya sudah berada dibalik selimut saat berita mengejutkan itu terdengar dari Metro TV. Padangsidimpuan diguncang gempa berkekuatan 6.1 SR. Masyaalloh!
Saya langsung melompat berdiri dan menghidupkan hp simpati yang biasanya mati. Hp ini biasanya hanya saya gunakan untuk komunikasi dengan keluarga, berhubung batrenya udah jebol, chargernya harus tetap dicolokin supaya bisa tetap hidup.
Kontributor Metro TV sedang melaporkan situasi terakhir, kabarnya tidak (belum) ada korban jiwa. Alhamdulillah. Jantung saya masih deg-degan dan sedikit gemetar menekan tombol-tombol hp mencari no umak.
Begitu terdengar salam dari umak, hati saya langsung lega dan langsung memberondong umak dengan pertanyaan beruntun, menanyakan bagaimana kronologinya.
Posted by: Lirih on: Mei 6, 2008
Setelah sekian lama hilang kontak akhirnya tadi siang saya beruntung bisa chat dengan sahabat saya sewaktu di SMTI, Iksan namanya.
Ketika pertama menemukannya di halaman friendster, saya kaget bukan kepalang. Pasalnya, dahulu sewaktu SMTI dia lebih mirip tiang listrik. Kurus, kerempeng, agak bungkuk karena posturnya yang tinggi, sampai-sampai kalau kami bermain ke tepi pantai Purus seusai jam sekolah, saya khawatir bisa-bisa dia terbang melayang tertiup angin.
Selain kurus, dia juga misterius. Istilah jaman sekarang, cool! Mungkin itu juga sebabnya banyak teman-teman wanita yang melirik diam-diam. Eit, saya tidak termasuk lho
saya hanya masih ingat kalau saya suka kagum sama tulisannya yang rapi. Tapi selain Ikhsan ada beberapa teman sekelas yang tulisannya rapi. Saya? jangan ditanya. Tulisan saya berantakan dengan banyak coretan. Alasan saya corat-coret ini agar tidak mengantuk.
Kembali ke Ikhsan, sosok sekarang saya lihat di friendster adalah seorang bapak yang gemuk berisi. Pipinya tembem, khas bapak-bapak. Apa semua pria kurus akan menjadi gemuk kalau sudah beristri? Demikian pertanyaan saya.
Posted by: Lirih on: Mei 2, 2008
Saya percaya, setiap kata dan perbuatan tidak ringan pertanggungjawabannya.
Anjuran untuk “Berkata yang baik atau lebih baik diam saja” sungguh tidak mudah buat saya yang cerewet ini. Saya tipe orang yang mudah mengoceh tentang apa saja, kebanyakan hal-hal yang tidak penting.
Dulu, waktu saya diajak untuk menjadi muslimah “benama” akhwat
rasanya sangat berat karena yang saya tau akhwat itu lemah lembut, kata-katanya santun, suaranya merdu dan lain sebagainya seperti sosok-sosok yang sering saya lihat bertebaran di masjid-masjid kampus.
Ilmu mungkin mudah dipelajari, tapi amal sungguh tidak mudah dilakukan. Hingga kini saya masih muslimah namun bukan seperti sosok lembut gemah gemulai dengan senyum dikulum *aih..*. Saya masih urakan, ceroboh, mengoceh yang tidak jelas, meledak-ledak, iman dan amal naik turun *tapi lebih sering turunnya dan nggak naik-naik* Baca entri selengkapnya »
Posted by: Lirih on: April 24, 2008
Saya suka kopi.
Kopi tubruk, kopi susu, coffemix, cappuchino, caramel machiato, atau frapuchino.
Saya suka minum kopi, baik itu kopi yang disajikan dicangkir warung kopi hingga kopi di gerai kopi ternama. Saya bisa menikmati sensasi kecut kopi arabika atau harumnya kopi robusta.
Bahkan, saya pernah sangat menyukai “camilan” bubuk kopi dicampur gula! Ini menjadi cemilan sehari-hari saya ketika masih SD. Tiga sendok bubuk kopi saya campur dalam cangkir plastik dengan 4-5 sendok gula pasir, saya aduk rata dan siap dinikmati kering.
Pengalaman saya minum kopi mungkin sejak usia kanak-kanak, saya masih bisa mengingat kenangan bersama sepupu-sepupu saya, berebut menyeruput kopi milik kakek saya. Jangan bayangkan kalau kopi itu hanya secangkir kecil atau segelas biasa, cangkir kopi milik kakek kami mungkin berkapasitas lebih dari 500 ml. Kopi itu sudah diseduh oleh nenek ketika kakek telah berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat subuh, ketika beliau pulang dapat dipastikan cangkir itu hanya tersisa setengahnya.
Tidak hanya menikmati minum kopi, saya juga menikmati mengolah kopi. Baca entri selengkapnya »
Posted by: Lirih on: Maret 25, 2008
Ahad, 23 Maret 2008 dengan mata yang masih mengantuk setelah perjalanan panjang, saya kuatkan untuk berangkat ke acara walimah sahabat saya, Henriko, yang diadakan di daerah Kalibata. Selain menunaikan janji, saya berharap bisa bertemu teman-teman semasa SMTI di sana. Karena menurut Riko, hampir semua teman yang berada di Jabodetabek ia undang.
Sebenarnya ada sedikit rasa enggan, apalagi karena berangkat sendirian. Adek saya yang cowok nggak bisa bangun, dia kecapekan. Nggak enak rasanya ke kondangan sendirian, kaya anak ayam kehilangan induk. Tapi saya pikir-pikir toh, nanti disana saya juga akan ketemu teman-teman.
Setiba disana, saya clingak-clinguk mencari wajah-wajah yang saya kenal. Alhamdulillah wajah Hendra yang pertama saya temukan kemudian wajah Mardiman. Kedua orang ini memang sudah akrab sejak SMTI dulu.
Hendra menggendong seorang anak perempuan imut. Ternyata teman saya sudah jadi seorang bapak. Begitu anaknya saya raih dari gendongan bapaknya, kontan putri kecil ini menjerit sekuat-kuatnya (padahal saya enggak pake topeng yang menakutkan, lho…) Ternyata putrinya Hendra takut dengan kondisi ruangan yang padat dengan ratusan orang. Sesaat kemudian, Hendra mengenalkan istrinya. Baca entri selengkapnya »
Posted by: Lirih on: Maret 17, 2008
Mengingatnya buat saya adalah mengingat kehidupan. Hidup yang tidak sekedar menghirup udara tapi tentang hidup yang dinamis, berjuang, dan bermanfaat buat orang lain.
Tubuhnya tidak lebih dari ketiak saya. Pendek. Tapi ia adalah wanita dengan cita-cita tinggi yang pernah saya kenal. Cita-citanya yang jauh melebihi ukuran tubuhnya. Cita-cita yang buat sebagian orang memandang remeh namun membuat sebagian orang lain takjub.
Tungkai kakinya kecil dan tidak lurus. Tulang punggungnya bengkok, mencuat membentuk sebuah punuk. Tetapi ia adalah salah satu wanita berhati lurus yang pernah saya kenal.
Masih lekat dalam ingatan saya, ketika dengan takut-takut saya menanyakan mengapa tubuhnya berbeda dari yang lain. Katanya dulu ia sakit malaria. Ketika saya mulai lancar membaca buku-buku literatur kesehatan, saya tahu bahwa malaria yang dia maksudkan bukan sekededar malaria yang membuat tubuh menggigil kedinginan. Monster jahat bernama Plasmodium falciparum mengahajar masa kecilnya yang seharusnya bahagia. Tubuhnya terperangkap oleh Malaria aestivo-autumnal. Di saat adik-adiknya tumbuh besar, tubuhnya tetap kecil bahkan bungkuk. Saat tungkai adik-adiknya membesar tungkainya tidak lebih dari diameter botol limun. Baca entri selengkapnya »
Posted by: Lirih on: Januari 27, 2008
Kemarin jumat saya diteleponin Binus Center mereka menyampaikan tawaran untuk mengikuti kelas CCNA (Cisco Certified Network Associate) melanjutkan kelas Network Administrator (NA) yang saya ikuti periode kemarin (Maret-Sep ‘07) .
Saya tanggapi tawaran itu dengan ucapan terimakasih dalam hati saya berkata ‘belum saatnya’ . Selain biaya yang cukup mahal, kenyataannya sertifikasi tersebut tidak/belum saya butuhkan di bidang pekerjaan yang saya tekuni sekarang.
Berbeda dengan saat saya memutuskan untuk mengikuti kelas NA kemarin. Sebagai satu-satunya makhluk venus di angkatan saya, teman-teman banyak yang penasaran apa alasan saya menganbil training ini. Meski tidak berkaitan dengan bidang pekerjaan, saya fikir ilmu ini sebuah investasi dengan harapan selesai training NA saya bisa ‘melompat’ ke perusaan lain. (Lagian saya fikir ini bidang yang saya minati dibanding pemrograman, atau web atau linux. Buat akh hyo, piss yaaa
)
Training ini saya selesaikan dengan hasil yang memuaskan (secara akademis) tapi secara skill rasanya belum marem. Saya belum pede berbekal selembar sertifikat untuk memulai karir di bidang Network Admin, chemistrynya belum dapat. Baca entri selengkapnya »
Salam Sapa