
Kisah Pertama
Namanya Febi Yulianda, bocah berusia 14 tahun yang masih duduk di kelas 2 SMP Kepahiang, Bengkulu, terancam menghabiskan masa waktunya di balik jeruji besi. Ia akan dituntut lima belas tahun penjara bila terbukti bersalah atas “keisengannya” merakit bom buku.
Konon, bocah itu terinspirasi tayangan televisi yang pernah ditontonnya. Apalagi setelah membaca buku yang mungkin belum bisa dicerna oleh bocah seusianya: Mengungkap Berita Besar Dalam Kitab Suci
Imajinasi Febi melambung, berharap menjadi bocah jenius yang bisa merakit bom dengan sisa rangkaian stik PS. Pasti hebat. Keren. Dahyat. Sekaligus menakutkan. Karena rasa takutlah ia mencampakkan bom “ecek-ecek” itu ke atas atap rumahnya.
Kisah Kedua
Khoirul Anwar, bocah ndeso dari Dusun Jambon di pelosok Kediri, Jawa Timur, terobsesi dengan kisah-kisah Firaun yang jasadnya awet hingga ribuan tahun.
Suatu hari, burung kesayangannya mati. Terinspirasi dengan teknologi pembalsaman yang bisa mengawetkan jenazah Firaun, Khoirul kecil mencoba bereksperimen mengawetkan bangkai burung kesayangannya dengan melumuri bangkai burung tersebut dengan balsam gosok.
Imajinasi Khairul melambung. Dia membayangkan kesuksesannya membuat bangkai burungnya mengeras, kaku, dan tetap terjaga keawetannya hingga bertahun-tahun.
Tapi Khoirul Anwar beruntung. Saat itu tidak ada tayangan televisi yang “keterlaluan”. Negara juga sedang tidak ketakutan akan pengawetan burung yang kemungkinan bisa merusak tatanan ekosistem. Eksperimen anehnya tidak didakwa sebagai aktifitas subversif. Meski eksperimen pembalasaman bangkai burungnya tidak berhasil, tapi gairah peneliti bocah itu awet hingga puluhan tahun.
Bibit keingintahuan itu tumbuh dan berkembang dalam jalur yang positif. Kini Khoirul Anwar terlah menjadi ilmuan tersohor. Prof Dr. Khoirul Anwar adalah pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) yang kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology, Jepang.
Kisah Ketiga
Ini kisah paling nggak penting.
Diam-diam, Re kecil terobesi dengan acara anak-anak di TVRI yang diasuh oleh Bu Kasur. Nalar bocahnya tidak mampu menjangkau bagaimana sebenarnya teknologi tayangan televisi. Tapi saat menonton Dunia Dalam Berita, selalu ditayangkan sebuah benda berputar-putar di angkasa dengan garis-garis memancar ke seluruh Indonesia.
“Oh, mungkin itulah benda yang merekam semua acara yang di tayangkan di televisi.” Begitu pikirnya. Jadi menjelang sore hari, saat menunaikan tugas mengangkat kain jemuran dari halaman, ia selalu menyempatkan diri beraksi. Menyanyi. Menari. Berdeklamasi. Imajinasinya melambung, berharap benda yang belakangan diketahui bernama satelit itu, dapat merekam aksi lebay-nya di antara jemuran yang melambai-lambai. Lalu setelah puas beraksi, ia akan berlari ke rumah dan segera menyetel TVRI meski harus rela menunggu jam hingga tepat pukul empat sore hingga logo bundar itu berubah menjadi sapaan ‘Selamat petang”. Berbulan-bulan baru bocah itu menyadari bahwa aksinya tidak pernah tayang di TVRI.
Kali lain, Re kecil terobsesi menjadi dokter hewan. Mungkin karena tantenya yang saat itu tengah berkuliah di IPB sering disanjung-sanjung bakal menjadi dokter hewan. Mungkin juga karena terinpirasi dengan kakeknya, seorang mantri di Angkatan darat.
Yang jelas, dengan sedikit trik dia berhasil menyeludupkan sebuah alat suntik. Ujung jarum yang lancip dan mengilat menggentarkan hatinya. Tapi imajinasinya kadung melambung tinggi. Dengan fasih ia menirukan gaya kakeknya menusukkan lobang jarum ke botol obat, tapi kali ini jarumnya diarahkan ke sebuah botol. Apa isinya? Spritus! Tinggal menarik tangkai jarum, maka bagian tengah alat suntik itu terisi penuh dengan cairan berwarna biru jernih. Dan… dingin…
Siapakah korban yang “beruntung” itu?
Re kecil punya tanggung jawab lain, “mengajak pulang” ayam peliharaan yang berkeliaran di sekitar rumah sebelum azan magrib berkumandang. Hari itu dia memilih seekor ayam yang terlihat murung. Mungkin alat suntik yang sudah disiapkannya itu mampu membuat si ayam kembali ceria. Tapi ke bagian mana alat suntik itu akan ditancapkan? kakeknya selalu menyuntik bokongnya kalau sakit. Tapi ayam kan tidak punya bokong? Dengan perlahan dan penuh kelembutan jarum suntik itu menembus paha atas si ayam malang, diiringi kotekan pilu penuh penderitaan.
Keesokan harinya. Rumah geger. Seekor ayam mereka mati menggenaskan. Paha ayam itu membiru.
***
Masa kanak-kanak hingga menjelang remaja adalah masa penuh imajinasi. Semua yang terekam di kepala, baik dari buku maupun tayangan televisi begitu mudah masuk ke dalam otak, seperti air yang mudah terserap oleh spons.
Entah menyadari atau tidak, media seolah-olah menutup mata akan efek tayangan yang mereka siarkan. Apalagi yang ditayangkan berulang-ulang. Ada yang memicu untuk meniru, ada yang mendorong untuk mencoba, ada yang mungkin berdiam dalam kepala hingga suatu saat menemukan pemicunya. Menyalahkan media? Kata-orang-orang media, tuduhan itu terlalu naif. Mengapa tidak menyalahkan orangtua?! Aduh, udah tua kok masih disalah-salahin hehehe. Jadi salah siapa dong? Entahlah.
Sisi lainnya, posisi menentukan prestasi. Itu jargon kami waktu sekolah/kuliah. Semakin strategis posisi kursi waktu ujian, semakin meningkat prestasi mencontek atau meminta jawaban tanpa ketahuan. Dalam hal ini, setelah menarik benang merah ketiga kisah tersebut, saya jadi terpikir bahwa ada hal-hal berupa faktor keberuntungan. Ya posisi tadi itu. Bisa jadi tempat, atau waktu. Khoirul Anwar beruntung terlahir di daerah Jawa, sendeso-ndesonya di tanah Jawa, tetap saja akses terhadap pendidikan, wawasan dan ilmu pengetahuan lebih mudah. Dengan bibit unggul yang telah dimiliki, plus penanganan yang tepat dan tentu kerja keras, Prof. Khoirul Anwar sukses menjadi ilmuan.
Duh…mungkin paragraf diatas hanya apologi alias pembelaan diri yang nggak mutu untuk menjawa mengapa “bakat terpendam” saya, nggak berkembang. Kok saya nggak jadi dokter, ya?! hahaha…ya iyalah. Untung saja saya nggak jadi dokter, nggak peduli dokter manusia ataupun dokter binatang. Bayangkan reputasi buruk saya terhadap pasien, rekor pertama yang saya miliki adalah rekor malapraktik! Menakutkan!
Lain halnya dengan Feby Yulianda, yang “terlalu” mudahnya mengakses terhadap berbagai hal justru jadi bumerang. Informasi yang dijejalkan kepadanya adalah perihal bom, teroris dan jihad. Andai informasi yang dia terima lebih banyak yang positif, misalnya teknologi chip yang bisa merekam isi fikiran manusia saat membaca buku, sehingga bisa menghasilan buku digital tanpa perlu bersusah payah mengeluarkan seuara untuk merekamnya, mungkin Feby Yulianda tidak akan digelandang ke kantor polisi. Karena, siapa tahu…dua puluh tahun kedepan Feby Yulianda menjadi salah satu ilmuan, pengkonversi mainan Play Station menjadi Book Reader, bukan bom buku.
Ah, tiba-tiba saya menjadi resah. Akan seperti apa ya anak-anak saya kelak?! Huuu uuu…

*phew*
Mo “like” aja ditodong username+password.
Untung masih ingat walo lamaaaa udah ga login.
Nice stroy
Ga da bayangan ya dlu mo masuk/mmpelajari komputer?
Fath dlu… pingin jd dokter.. mgkn krn pngaruh profesi ibu.
Haha.. ga kebayang klo 15 tahun lalu, waktu ujian masuk ke Akper Negeri Jogja keterima.. mgkn kita gjd ktemu
Re, selalu mangagumi daya ingat masa lampaumu yang masih tajam dan daya rangkai kata yang memukau (haiyah, bahasane Rek!) tapi emang begitulah say, always love reading your posting….selalu ada yangibroh di setiap cerita.
Hm….obsesi waktu kecil?
*lamaaaaaa mikirnya nih*
kayanya kerjaanku main mulu deh, yg paling berkesan sih dengan songoong nendang anjing lagi makan, trus pahanya di caplok ma giginya. Suedaaaappp…..
Eh, bukan prestasi itu ya?
Setidaknya aku ga jadi kamtib yang nendang PKL pas lagi cari makanlah hehe
salam kenal….