Mozaik Kehidupan

Orang Batak Berpuasa

Posted by: Lirih on: Juni 30, 2009

orang batak puasaJudul: Orang Batak Berpuasa

Penulis :Baharuddin Aritonang

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Edisi : Soft Cover
Tgl Penerbitan : Oktober 2007
Bahasa : Indonesia
Halaman : 200
Ukuran : 21 x 14 cm
Berat : 300 gr

 

 

 

Pertamakali saya mengenal Baharuddin Aritonang lewat bukunya Orang Batak Naik Haji, yang saya peroleh saat hunting buku murah di stand KPG Book Fair beberapa tahun lalu. Entah kenapa buku itu belum sempat saya baca tuntas.

Pertengahan 2008, nama Baharuddin Aritonang yang pernah menjabat sebagai anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004 mulai sering disebut-sebut dalam pemerikasaan kasus Aliran Dana BI. Tapi kala itu saya tidak menyadari bahwa Baharuddin Aritonang yang disebut-sebut itu adalah Baharuddin yang sama dengan penulis yang bukunya berada di deretan rak buku saya.

Setahun setelahnya, Juni 2009 di Gramedia Blok M, saya menemukan buku yang sampulnya berhisaskan ornament arsitektural timur tengah berwarna dominan hijau, dengan garis lengkung merah dan kuning keemasan, ornament yang sering kita temukan menjadi hiasan di dinding masjid. Buku itu berjudul “Orang Batak Berpuasa” penulisnya lagi-lagi Baharuddin Aritonang.

Apa yang membuat Anda membawa pulang sebuah buku dari toko buku? Sampulnya, isinya?, penulisnya atau karena resensi yang menarik?

Kali ini saya memiliki alasan lain untuk membeli buku ini. Karena saya adalah orang batak. “Lha, kamu kan orang batak, ngapain baca buku Orang Batak Berpuasa?” Entah mengapa saya merasa memiliki keterikatanan emosional dengan buku ini.

Apalagi setelah membaca sampul bagian belakang, untuk pertamakalinya saya sangat sepakat dengan tulisan KH Abdurrahman Wahid (lho, serarti selama ini sampean ndak sepakat tho? Ah, soal ini nanti sajalah kita bahas). “Berbeda dengan orang Batak yang berasal dari utara dan beragama Kristen, hampir-hampir tidak ada catatan etnografis tentang orang Batak dari daerah Mandailing ke selatan hingga perbatasan Sumatera Barat. Karena itu, penggambaran bagaimana orang Batak berpuasa punya arti sangat penting bagi kita. Sedikit-banyak kita memperoleh pengertian tentang orang-orang Mandailing itu “

Darah Batak-Mandailing yang mengalir di tubuh saya berdesir. Ingatan tentang bagaimana saya berpuasa sudah samar-samar, bahkan hampir tidak ada yang special. Tapi hal ini yang membuat saya penasaran, mengapa seorang Baharuddin Aritonang merasa perlu untuk menuliskan bagaimana orang Batak berpuasa.

Dengan mantap buku itu saya bayar dan saya bawa pulang, dalam hati saya berjanji akan memeriksa rak buku saya kembali untuk mencari buku “Orang Batak Naik Haji”.

Menilik sampulnya, sekilas saya berpikir bahwa buku ini mungkin buku yang serius. Mungkin hanya berisi referensi atau kajian pustaka. Tapi ternyata dugaan saya salah besar.

Buku ini asik banget! Sumpeh.

Baharuddin Aritonang menuliskan kenangannya sebagai anak yang tumbuh dan besar di kota Padangsidimpuan, kota yang sama tempat saya dilahirkan.

Buku ini adalah mesin waktu yang membawa saya kembali ke masa kecil hingga saya remaja (SMP). Membaca buku ini saya bisa membayangkan kembali kota Padangsidimpuan dengan aliran sungai Batang Ayumi yang masih deras dan jernih. Pasar Balerong Batu dan Pasar Baru tempat saya banyak menghabiskan waktu membantu dan menemani nenek berdagang kain atau kebun kelapa yang luas di Padangmatinggi tempat saya menghabiskan waktu dengan kakek, mengangkut kelapa yang telah dipetik dan dikupas untuk dijual di pasar.

Saya jadi mengerti mengapa Baharuddin Aritonang menfokuskan pada orang Batak berpuasa. Saya baru menyadari bahwa puasa buat kami orang Batak Mandailing, bukan sekedar urusan dogmatis agama, tapi banyak budaya dan kekhas-an yang membuat urusan puasa dan segala hal yang berlangsung selama bulan puasa menjadi unik. Dan semua ini dicatat runut oleh Baharudding Aritonang mulai sejak menjelang puasa hingga lebaran tiba.

Pernah mendengar istilah padusan? Atau di Sumatera Barat disebut Balimau, maka di Mandailing kami menyebutnya dengan istilah Marpangir. Saya sempat mengalami asiknya kenangan marpangir di sungai di daerah Parsasiran. Mandi di sungai berair deras dan jernih, melompat dari batu ke lubuk yang lebih dalam. Bermain air sepuasnya, lebih asik dan menantang dari waterboom manapun. Capek bermain tinggal menepi menikmati bekal yang di bawa dari rumah dalam rantang bersusun. Habis mandi tinggal berjalan sedikit ke hulu menadahkan mulut ke mata air yang mengucur dari akar pohon besar.

Baharuddin Ar itonang, memulai deretan kisah Orang Batak Berpuasa dari budaya Marpangir sebagai salah satu persiapan menyambut bulan puasa, disamping membersihkan rumah dan pekarangan. Kemudian berlanjut ke kisah tentang bagaimana kebanyakan orang Batak Mandailing mensikapi penetapan awal bulan puasa. Pemahaman NU dan Muhammadiyah banyak mewarnai perbedaan warga Batak Mandailing dalam beribadah khususnya berpuasa. Dan perbedaan ini direkam oleh Baharuddin dengan indah. Mulai dari perbedaan penetapan bulan puasa, jumlah rakaat shalat witir, qunut atau tidak hingga penerimaan terhadap adat istiadat Batak seperti Mangupa. Saya kerap tersenyum membaca tulisannya, seperti bisa melihat diri saya menjadi bagian dari cerita yang dituturkan.

Buku ini membawakan hal-hal berharga yang menjadi bagian masa kecil saya. Jika tidak membaca buku ini bukan tidak mungkin bagian-bagian tersebut hilang perlahan tanpa saya sadari.

Ikan-ikan yang dulu sering menjadi lauk di atas meja makan, perlahan mulai hilang dari pasaran seiring hilangnya sungai-sungai berair jernih dari Padangsidimpuan. Sebut saja ikan Sikating, Mirik, Itcor, Lelan, Inggit-inggit hingga ikan Mera/Garing (Jurung) yang konon merupakan ikan makanan para Raja. Ikan-ikan ini mulai langka, mungkin hanya tinggal nama, bila tidak ada yang menuliskannya seperti Baharuddin Aritonang, bisa jadi namanya pun tidak akan terkenang.

Buat saya sebagai seorang yang lahir dan beranjak besar di kota Padangsidimpuan lalu merantau ke negeri seberang (Pulau Jawa), buku ini menjadi penting sebagai pengikat kenangan atau seperti yang saya tuliskan sebelumnya menjadi mesin waktu yang menerbangkan saya kembali ke masa lalu, ke kota saya lahir dan tumbuh, di saat “pulang” menjadi hal yang semakin mahal.

Buku ini membuat saya semakin rindu untuk pulang, meski ketika pulang nanti kota yang saya tuju bukan lagi seperti kota Padangsidimpuan yang lekat dalam ingatan.

Kemarin, ketika saya menelepon Bapak untuk menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran cucu keduanya, ternyata Bapak sedang asik memancing ikan, hobi yang telah beliau tekuni bertahun-tahun.

“Pak, saya kangen makan ikan Itcor, di kampung kita masih ada nggak ya?” tanya saya pada Bapak.

“Makanya pulang lah, Butet. Nanti Bapak carikan”

Saya terharu mendengar jawaban beliau. Mencari Itcor bisa jadi lebih susah dari pada mencari emas. Tapi saya yakin, buat seorang putrinya seorang ayah akan mau melakukan apa saja, termasuk mencari ikan Itcor yang semakin langka.

“Iya, Pak. Insyaalloh lebaran nanti saya pulang” saya berjanji pada Bapak yang disambutnya dengan ucapan syukur dengan nada suara yang senang.

Saya sangat berterimakasih pada Bapak Baharuddin Aritonang yang telah menuliskan buku berharga ini.

Buku yang harus(nya) dibaca oleh anak-anak Padangsidimpuan yang tinggal di perantauan atau sangat pantas dibaca oleh siapa saja yang mencintai keindahan budaya Indonesia yang beragam.

Bisa dibeli di : www.Bukabuku.com

Atau, baca versi onlinenya di : Google Book

8 Tanggapan ke "Orang Batak Berpuasa"

Mmm.. Two thumbs up aja for now, soalnya speechless duluan siy. Betapa dunia yg berbeda; maksudnya, Fath ga pernah pergi terlalu jauh (apalagi keluar pulau)…
Beberapa budaya, ternyata sama saja yah, cuman paling beda nama saja.
Bulan ini, daku beli buku apa yah.. *wondering*
Or rather, “makan nasi, atau beli buku aja yah?”
Hahaha… :mrgreen:

Afwan, ralat: yg bener bukan “makan nasi, atau beli buku aja yah” tetapi “makan nasi, atau makan buku aja yah“…
:mrgreen:

Mba Rayaaa, tulisannya bagus bangeett!!!
Aku suka! :)

Bagus Mba Raya…Mba terlalu merendah nih….saya mah ga ada apa-apanya dibanding Mba

Mba Raya, dapet Award dari saya… Silahkan lihat blog saya :)

waw review yang keren… nanti masukin list yang mau dibeli ahhh
salam kenal ya mba.

hmm
bentar lagi bulan puasa bulan penuh barokah
:)

Tinggalkan Balasan