Mozaik Kehidupan

Ayahku, Sahabatku

Posted by: Lirih on: Mei 14, 2009

daddy s by frightenupthedaysSaya senang mendengar cerita teman-teman saya. Ibu-ibu bercerita tentang anak-anaknya, tentang suami mereka, mertua atau tetanggga mereka. Atau teman saya yang masih pacaran cerita tentang pacarnya, tentang masalah sama keluarga dll. Banyak ilmu yang berharga yang saya dapatkan. Tetapi, cerita yang paling menarik menurut saya adalah cerita keluarga dari sudut pandang seorang ayah.

Saya sangat menikmati mendengarkan cerita dari Pak Beruang Madu tentang anak lelakinya yang sekarang sudah sekolah TK. Atau cerita Pak Beruang Kutub tentang 3 anak gadisnya.

Seperti kemarin Pak Beruang Madu cerita bahwa dia kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya. Pada suatu hari, seorang pemuda tetangga mereka ditangkap polisi dan polisi tersebut melepaskan tembakan. Medengar letusan senjata api Pak Beruang Madu berlari keluar untuk cari tahu tentang kejadian itu.

Saat kembali ke rumah dia diserbu dengan pertanyaan dari anaknya.

A: Abi, tadi ada apa?

PakBeruangMadu: Ada orang jahat ditangkap polisi.

A: Siapa?Aku kenal nggak Bi?

PBM: Orang belakang. Kamu nggak kenal .

A: Namanya siapa Bi? Biar aku tau .

PBM: Kamu nggak perlu tau.

A: Emangnya Abi nggak suka kalau aku banyak tau?

PBM: Bukan begitu, nggak semua hal kamu harus tau.

Saya lalu bertanya, ‘Pak, kenapa Bapak nggak kasi tau namanya aja?’

PBM: ‘Kalau saya kasi tau, saya khawatir kejadian ini melekat dalam ingatannya ketika dia keluar rumah dan bermain dengan teman-temannya dia bilang sama teman-temannya kalau “Si X itu orang Jahat”

Saya mengangguk-angguk. Oh, begini rupanya mendidik anak, saya berkata dalam hati. Karena kalau saya di posisi itu bisa jadi saya menyebutkan namanya dan menakut-nakuti supaya dia nggak nakal dan nggak ditanggap polisi.

PBM: ‘Re, aku heran ya kok anakku bisa begitu ya?

R: Yee, bapaknya aja begini.hehehe

PBM: Tapi nggak lho Re, aku dulu waktu kecil pendiam. Nggak banyak ngomomong.

R: Ah masa sih, Pak? Bapak nggak ingat kali?

PBM: Iya, serius. Aku masih ingat kok.

Saya membayangkan bagaimana orang ’sebawel’ Pak Beruang Madu ternyata kecilnya pendiam.

R: Mungkin karena nggak ada kesempatan untuk banyak ngobrol dengan ortu kali, Pak?

PBM: Iya kali Re, mungkin juga karena sekarang saya memposisikan diri saya dengan Nando itu adalah sebagai Teman. Sementara dulu relasi saya dengan Bapak saya adalah relasi “Ayah-Anak”

Obrolan ini terus membayang dalam benak saya. Saya masih ingat bagaimana Pak Beruang Madu membahasakan dirinya dan anaknya dengan “Aku dan Kamu”, bukan “Abi dan Kamu”.

Saya membandingkan dengan diri saya, mengingat kembali bagaimana hubungan saya dengan Bapak. Jarak rasa saya dengan Bapak terlanjur jauh. Jangankan menjadi “Teman”, menjadi “Ayah dan Anak” saja saya baru merasakannya setelah saya cukup dewasa.

Meski saya berusaha mengambil hati beliau, dan beliau juga tampak seperti ingin memiliki kedekatan dengan saya seperti kedekatan saya dengan Umak, namun itu tidak bisa menebus puluhan tahun waktu yang terlewat. Mengingat ini membuat saya jadi mellow lagi :(

Bila Allah ijinkan kelak saya memiliki anak-anak, saya ingin anak-anak saya menjadikan Ayah dan Ibu mereka sebagai teman atau sahabat pertama mereka sebelum mereka menemukan teman di tempat bermain atau di sekolah. Ketika sahabat mereka datang dan pergi silih berganti, mereka selalu dapat menemukan sahabat sejati menunggu di rumah mereka siap mendengarkan curhat mereka kapan saja dan tentang apa saja.

Sahabat saya ketika SMA dan ketika kuliah sudah banyak yang menjadi Ayah. Ada yang menjadi ayah dari seorang Putra, atau ayah dari seorang putri.

Saya kurang tahu, apakah menjadi ayah dari seorang anak laki-laki lebih mudah daripada menjadi Ayah dari seorang anak perempuan. Tapi apapun amanah yang Allah percayakan, semoga hanya saya anak perempuan terakhir di dunia ini yang pernah merasakan “berjarak” dengan ayahnya sendiri, dan tidak adalagi ayah di dunia ini yang menyesal di hari tuanya karena tidak mengenal putra-putrinya sama sekali.

Salam hormat saya buat Ayahanda saya, lelaki-lelaki baik yang saya kenal dan kini telah menjadi ayah, para sahabat yang dipertemukan kembali lewat internet.

8 Tanggapan ke "Ayahku, Sahabatku"

Yeah.., setuju; terutama di saat anak-anak mulai baligh, Fath jg prefer hubungan itu adalah hubungan sseorang (anak) dg sahabatnya.
Ah, daku sok tau. jadi bapak aja belom udah koment macem2.

Kali ini pendek aja ah, mencoba mengurangi bicara. Banyak bicara makin banyak (kemungkinan) salahnya…

Jazakillah khoir atas insipirasinya di artikel ini :-)

Menurut Re, persahabatan ayah dengan anak mungkin harus mulai dibangun sejak dini. Tapi re kepikir juga, bagaimana kalau ayah-ayah yang sekarang ini “terbentuk” dengan pola yang dibentuk oleh ayah mereka juga ya?!

hem… segera dipraktekin ya pelajaran yang dah diambil… ;) )

Ayahku sakit parah sekarang :-(

@oliveoile

dapet kabar katanya ayah mbak meninggal?? turut berduka atas meninggalnya ayahanda. smoga dosa2nya diampuni, diterima amal ibadahnya, dan dilapangkan kuburnya.

@eko
Iya hari jum’at 29 Mei. Jazakumullah khair tuk doa’nya

Setuju d ama mbak re persahabatan ayah dan anak memang harus dibangun sejak dini,saat ini banyak media yang bisa menyadarkan seorang ayah harus bersikap terbuka terhadap anaknya dan umi juga harus ikut berperan untuk mendekatkan ayah dengan anaknya contoh kecilnya tidak menakuti atau mengintimidasi anak dengan “Kalo adek atau emas gak mau belajar nanti abi marah lo “.terkesan ayah seperti sosok yang mengerikan hi syerem. mb raya masih ingat diriku kan?

ada kalanya “Kalo adek atau emas gak mau belajar nanti abi marah lo “ diperlukan. tahu tempat dan waktu itu lebih baik. ada kalanya ortu berperan sebagai sahabat, ada kalanya ortu sebagai rekan, ada kalanya ortu jadi pembimbing atau semacam atasan. dilihat situasinya. (duh… kayak dah pernah jadi ayah aja…. :D ) jika anak dilembutin terus bisa jadi malah akan manja. tapi jika sekali tempo dikerasin atau lebih enak disebut ditegasin maka akan ada ketaatan. kewibawaan orang tua juga akan terjaga.

*sebagian hasil lihat acara tv nanny 911.

Tinggalkan Balasan