Mozaik Kehidupan

Akil baligh, Aurat dan Rok

Posted by: Lirih on: Juli 25, 2008

Ini kenangan saya dimasa SD kelas 4-6 atau di madrasah ibtidaiyah kelas 2 sampai kelas 4.

Akil Baligh atau dewasa dalam ukuran agama, ditandai dengan haid dan mimpi basah. Saya malu mengingat dangkalnya pengertian mimpi basah buat saya dan teman-teman sekelas ketika itu. Ibu Guru kami dengan wajah memerah hanya menjelaskan bahwa mimpi basah itu adalah ketika anak lelaki bangun dan mendapati pakaian dalamnya basah. “Ngompol dong Buuuuuuu…… “seru kami, anak-anak perempuan sambil ketawa cekikikan, sementara anak laki-laki mencak-mencak karena sulit buat mereka menjelaskan alasannya kenapa sebesar itu masih ngompol :) ). Sedangkan membayangkan haid buat kami adalah mimpi buruk dan horor paling menyeramkan yang harus kami terima. Membayangkan darah saja saya sudah pusing. Yiiikks!

Saya pernah punya pikiran nyeleneh semasa SD, berkaitan dengan konsep akil baligh dan kedewasaan ini. Guru agama juga Guru di Madrasah Ibtidaiyah menjelaskan konsekuensi akil baligh. Akil baligh berarti tanda bahwa setiap anak mulai bertanggung jawab dengan segala perbuatannya di hadapan Allah SWT, mulai menerima kewajiban-kewajiban syariat dan harus lebih menjaga ahlaq. yang pasti, dosa dan pahala akan ditanggung sendiri.

Saya ingat sekali, bahwa saat itu saya mengacungkan tangan bertanya pada Bu Guru. “Ibu, apakah sebelum baligh tidak berdosa melakukan kenakalan dan hal-hal yang melanggar syariat?”. Ibu Guru menjawab, tetap berdosa, tetapi orang tualah yang menanggungnya.

Dalam hati saya berteriak, Yesss!!!!!. Itu artinya saya masih punya kesempatan untuk melakukan kenakalan-kenakalan sebelum tiba masanya saya menanggung sendiri dosa dan pahala saya. Jadi tunggu apalagi? Go on…! Hehehehe……..

Kenakalan saya agak mereda ketika diajarkan lagi konsep birrul walidayn. Saya mendapat pencerahan, bahwa berbakti pada orang tua adalah mendoakannya, tidak membentaknya (berkata keras, kasar, membantah) dan berkata “Ah!” serta bersikap baik. Jadi, ketika saya semakin nakal, saya semakin khusuk mendoakan Orang Tua saya (Maafkan anakmu ini Pak, Mak……).

Jadi saran saya pada Bapak/Ibu Guru dan para orang tua, lebih bijaklah dalam mengajarkan konsep akil baligh, tanggung jawab dan dosa pada anak-anak Anda. Yang jelas, kelak bila saya jadi Ibu, saya nggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kalau anak saya pengen ngadalin saya, saya akan bilang “Eits,,, buaya kok mau dikadalin” hihihihihi.

Selain tanggung jawab syariat rukun Islam bagi yang sudah baligh, kami juga ditekankan bahwa tidak pantas untuk memamerkan aurat. Bengalnya kami adalah sering kali kami melalaikan urusan aurat ketika bermain. Misalnya, melepas kerudung supaya leluasa bermain karet atau maryeyek (diucapkan seperti peyek). Atau mengangkat rok tinggi-tinggi sampai diatas lutut agar leluasa berlari dan kejar-kejaran, tentu semua ini dilakukan demi alasan praktis, bukan untuk pamer aurat.

Setelah kelas 6 SD kebanyak teman-teman wanita lebih memilih permainan sederhana seperti kuaci (dakocan), bekel. dll. Karena siapa yang ketahuan buka kerudung atau mengangkat rok tinggi-tinggi harus siap kena jeweran guru agama, yaitu uak saya. Permainan-permainan itu sungguh tidak menarik. Main kuaci membuat telapak tangan saya lecet, main bekel hanya butuh modal batu kerikil. Apalagi main bongkar pasang, yang kerjaannya cuma gonta-ganti baju boneka kertas.

Jadi saya dan beberapa teman menekuni permainan kelereng dan tidak bisa berhenti bermain kejar-kejaran seperti permainan “galah panjang”, Main sembar”,Main Bola Kasti”. Takut kena hukuman di sekolah, saya tidak berani mengangkat rok saat bermain, akibatnya sudah jelas, rok saya tidak pernah normal. Jahitan disamping kiri, kanan dan belakang selalu sobek jahitannya sampai ke betis. Akibatnya lagi, tentu saya dapat hukuman jeweran di perut dari uak. Tapi buat saya itu jauh lebih baik dari pada dihukum di sekolah dan ditertawakan teman sekelas.

Dengan sabar uak menjahit kembali rok saya yang sobek, mungkin uak juga merasa ini adalah imbas dari peraturan yang diterapkannya di sekolah.

Tapi manusia kan punya rasa bosan juga. Lama-lama uak saya bosan berada dalam lingkaran siklus rok saya. Dijahit – sobek – dijahit lagi – sobek lagi – dijahit lagi lagi – sobek lagi lagi, dan demikian seterusnya hingga lagi lagi laginya bertambah banyak. Uak sempat mengancam akan menjahit rok saya dengan benang nilon (benang buat pancing), tapi saya tau itu hanya ancaman, mesin jahit singernya mana bisa dipasangi benang nilon. Tapi andai pun bisa, saya pikir itu inovasi yang mengagumkan dalam dunia fasion. Hehehehe…

Kembali ke konsep akil baligh dan urusan aurat.

Didikan ini terus terpatri di dalam kepala saya. Mungkin ini hikmah pepatah yang berkata belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu. Saya sudah baligh ketika kelas 6 SD, artinya ketika masuk SMP saya harus tetap mengenakan penutup aurat, meski rok pendek seragam putih biru itu sangat menggoda untuk dikenakan. Alasannya sederhana. Saya masih bandel dan nakal, dosa-dosa saya akibat kenakalan itu sudah cukup banyak, kalau harus di tambah dengan dosa membuka aurat, saya amat yakin saya harus ngesot di hadapan Allah SWT karena tidak mampu berjalan dengan berdiri memikul dosa yang berkarung-karung itu.

Mamak saya tidak yakin saya bisa bertahan mengenakan kerudung di masa SMP. Tapi uak merasa senang dan bahagia, merasa didikan berhasil, hehehehe,,,,untuk itu uak harus tetap bersabar untuk terus menjahit rok sekolah saya yang sobek untuk alasan yang berbeda, bukan karena permainan lari-lari, tetapi karena naik sepeda.

Saya tentu iba pada uak, jadi cukuplah bebannya urusan rok sekolah saya. Sisanya, lemari saya dipenuhi tumpukan celana jins yang saya yakini sangat awet dalam masalah kesobekan, dan uak saya terpaksa pasrah menerimanya.

Kelak suatu masa, uak saya akan kembali tersenyum bahagia saat saya memensiunkan tumpukan jins, kemeja flanel, kaos-kaos dan menghibahkannya buat 2 adik laki-laki saya.

Suatu masa juga saya kembali mengenakan rok. Bukan karena karena seragam. Tapi karena pilihan sadar, dan akhirnya saya belajar untuk menjahit sendiri rok yang sobek itu. Padahal saya sudah nggak lari-larian, ngak main sepeda-sepedaan. Karena lama-lama saya juga bosan menjahit rok yang sobek, saya mulai berpikir dan belajar bagaimana cara berjalan yang tidak menyiksa rok saya, percayalah…mungkin sekolah kepribadian John Robert Power yang mendidik para model itu juga kesulitan mengajarkannya pada saya.

Kalau sekarang sih, saya sudah mahir :D

5 Tanggapan ke "Akil baligh, Aurat dan Rok"

Kocak banget sih Ray….hahaha! :D
Jadi inget waktu awal2 SMTI dikau masih pake jins dan kemeja flanel…
Emang tuh Raya, jalannya gedubrakan!
Meski sekarang udah rada ‘aleman, tapi style jalanmu kayanya susah di tinggal ya..?
Masih gesit kaya dulu,….(sambil membayangkan Raya nanya2 alamat klinik alergi pas aku ke jakarta dulu)hehehe…

Sense of humor-nya… :mrgreen:
Kalo “gesit”, yach, Fath ga keberatan sama sekali, gesit itu baek. Tangkas. Cepat. Reliable… ;-)
Ga’ kaya’ aq yg serba lambat :lol:
*duh, lambat koq ketawa…*
Untunglah, sepanjang yg Fath bisa ingat, kita kenal pas Ukhti udah pake rok… :mrgreen:
Fath ga ingat periode singkat sebelum pake rok (kalaupun bener2 ada, coz ga ingat sama sekali sih).
Syukur bgt… ;-)

hahahahaha…. mbak… eko ketawa sendiri bacanya… ternyata lumayan usil and bandel ya waktu kecil… wah eko juga pernah tuh ditanyain soal awal masa baligh laki2. jawab aja apa adanya. hehehe…

hehehe,,, mba jg nulisnya sambil rileks senyum2, kalau nulis yang serius2 lama pulihnya, banyak hal menyenangkan semasa kecil yang sayang kalau dilupain :mrgreen:

@ ekonugroho:
cocok khan, “the entertainer” :lol:

Horeee Raya nulis lagi ..!!!!!!! Alhamdulillah

hehehe,, alhamdulillah, San. keluarga sehat semua kan? :)

Tinggalkan Balasan