Posted by: Lirih on: Juni 27, 2008
Ade mengaku badannya ‘bangkak’ alias membesar, wajar,,,, itu khas badan ibu-ibu. Badan membesar karena kehamilan. Tapi setelah melahirkan bahkan setelah yang lahir bertambah usia sisa-sisa kehamilan itu tidak ikut hilang. Tinggal membekas menjadi kenang-kenangan hehehe.
Saya mengaku mengalami ‘kesalahan perkembangangan’ seperti yang disindir iklan susu kalsium. Secara tumbuh itu ke atas, bukan kesamping!.
Menurut saya wajah Ade tidak berubah, hanya tai lalatnya semakin banyak, semakin jelas dikulit putihnya. Tai lalat saya sebenarnya juga semakin banyak cuma nggak begitu kelihatan hihihihi….karena kulit saya tidak putih.
Menurut Ade wajah saya juga tidak berubah terutama senyum saya yang rada-rasa senyum jail hihihihi…. Udara Jakarta sepertinya cocok buat saya kata Ade. Lalu kami sama-sama bercermin lalu cekikikan tertawa geli.
Matahari kota Padang yang terik menerpa pantai bikin saya semakin gosong dan ‘kaliang’ alias hitam seperti orang keling.
Banyaknya beraktifitas diluar semasa kuliah membuat matahari kota Jogja bebas memanggang kulit saya. Dasarnya memang tidak begitu perduli dengan urusan penampilan, boro-boro memikirkan sun block alias tabir surya, buat saya pada masa itu mending beli buku, majalah dan secukupnya buat beli nasi angkringan plus gorengan.
Sedang di Jakarta, saya keluar rumah saat matahari masih tertutup kabut, baik itu kabut polusi atau mungkin mendung, lalu pulang kerja setelah matahari bergegas sembunyi. Sepertinya langit Jakarta memang selalu kelabu. Itu keberuntungan buat saya, langit menghalangi sinar matahari membakar kulit saya, dia tahu saya sudah cukup gosong hehehehe…..
Begitulah sisi lain pertemuan saya dan Ade. Pertemuan teman lama, pertemuan dua orang wanita. Khas obrolan wanita, sedikit banyak pasti bersentuhan dengan urusan penampilan. Nggak salah kan?
Satu hal yang menjadi uneg-uneg saya bila bertemu dengan beberapa teman akhwat yang lain, adalah ucapan mereka yang kurang menyenangkan saat berjumpa setelah berapa lama tidak ketemu, setelah cipika cipiki langsung nyeletuk : waduh ukhti kok gemukan syich…..
Kalau sudah begini, saya buru-buru istighfar dalam hati.
Apalagi kalau ditambah ucapan yang terdengar agak sinis : Weh…. Ukhti udah makmur nich sekarang….
Astaghfirullah….astaghfirullah…. (jangan su’udzon Re!)
Belum selesai, tambah lagi : Walau udah makmur jangan ngejar karir lho, ukht….kapan nich undangannya……..
Help me! Help me! Kalau sudah begini saya teringat kembali keinginan saya untuk punya ilmu menghilang atau ilmu meringankan tubuh agar bisa segera kabur dari hadapannya.
Alangkah indah sebuah pertemuan bila diawali dengan ucapan yang menyenangkan, memuji dengan tulus keluar dari hati. Akhwat juga manusia, bahagia bila mendapatkan sedikit pujian. Bila tidak ada celah untuk memuji tubuhnya dengan kata-kata agak rampingan karena kenyataannya bentuknya membesar, pujilah karena senyumnya yang berseri.
Btw, kalau antar ikhwan atau sahabat laki-laki ketemu apa sich yang diobrolin pertamakali? Masalah jenggot yang tidak bertambah panjang? Baju koko yang keren keluaran PREVIEW desain Itang Yunaz? Atau parfum wangi apa yang dipake saat jumatan kemarin?
1 | marselenade
Juni 29, 2008 pada 1:01 am
Aku termenung membaca ini…
Mencoba mereka ulang kembali obrolanku denganmu…
Apakah ada yang telah (tak sengaja) menyakiti hatimu???
Ade tak ingat pernah mengkomentari ‘how fat u r now’, karena dimataku pas-pas aja kok. And it’s not my point to see u,sist…
Tapi soal dikau sepertinya cocok dengan udara Jakarta, itu sih memang benar
However,maafkan Ade ukh….Afwaaannnn…..
Ini bukan isapan jempol,tapi sungguh, memandangmu selalu menentramkan hati…Setelah sebelas tahun tak berjumpa, hati ini bengkak rasanya saking senangnya!
Maaf bila ada salah kata dalam perjumpaan kita yang indah, sama sekali tak ada maksud melukaimu…