Excuses are the nails used to build a house of failure. ~Don Wilder and Bill Rechin
Hari ini saya merasa sangat buruk. Tidak sekedar buruk, tapi buruk sekali.
Saya nggak sanggup menceritakannya pada siapa pun. Karena malu, iya. Karena takut pendengar salah mengerti, juga. Saya nggak pengen perasaan saya ”dibela” atau “dielus-elus” dan membuat saya merasa “baik-baik saja”. Karena saya tau jelas, ini buruk sekali.
Saya melakukan kesalahan dalam pekerjaan. Kesalahan fatal. Kesalahan yang memalukan.
Stephen King bilang, “Menulis adalah pekerjaan manusia, mengedit pekerjaan dewa.” Ini bukan untuk mendewa-dewakan, tapi menegaskan bahwa menjadi “dewa” berarti tidak ada peluang melakukan kesalahan. Dan, no excuses!
Saya mencintai pekerjaan ini. Tapi saya merasa tidak cukup layak. Saya jadi “benci” mata saya yang tidak jeli, saya benci kecerobohan-kecerobohan saya, saya benci ketidaksensitifan saya pada kesalahan-kesalahan yang ceto welo-welo, begitu jelas di depan mata.
Excuses-nya adalah: semua butuh waktu, semua butuh proses, semua butuh latihan. Tapi sekali lagi, no excuse! Seperti seorang penerjun yang sudah melompat dari pintu pesawat, tidak ada alasan untuk tidak menyiapkan parasut dan memastikannya terbuka pada waktunya. Lalai dan ceroboh berarti nyawa taruhannya. Dan yang saya pertaruhkan adalah kredibilitas. Itulah nyawa saya sebagai seorang editor.





